Pengantar

Inisiasi Jannus P. Sihombing ‘Associate’

Hal yang juga kait-mengait tidak dapat diabaikan dari ‘tindak-tanduk’ Jannus P. Sihombing sebagai representasi dari partisipasi individu yang dominan, dimana menghadirkan kontribusi pemikiran dalam tataran analitis filsafat, praktikal misi dan konstruski reformatoris teologi Injili dengan menjunjung tinggi format keutamaan wahyu Alkitab sebagai sandaran. Dengan independensi yang terlibat intens dalam ‘menyusupi’ diskursus yang alpa dengan perspektif ortodoksi kekeritenan Injili dalam pengakuan wibawa Alkitab dan kedaulatan Allah, Jannus P. Sihombing selama kurang lebih 4 tahun belakangan memulai pelayanan yang bercakupan luas dalam ranah kebudayaan. Dimana dengan ‘murahnya’ menulis paper dan makalah diskusi, materi PA, buku, traktat. Disamping intens menguatkan partisipasi Injili dalam wilayah publik dengan memproduksi jurnal dengan cakupan dan kompetensi ilmiah. Sehingga tanpa mengurai panjang lebar partisipasi Komunitas Injili berupaya untuk tidak hanya melibatkan ‘dominansi individu’. Sehingga bukan hanya sebatas dukungan terhadap apa yang hanya dilakukan oleh individu, melainkan cakupan menjadi komunitas. Disamping tuntutan produktifitas individu juga menjadi tuntutan. Sehingga intensitasnya yang bukan hanya aktualisasi individu melainkan esensi komunitas itu sendiri.

(cat. Dalam hal ini segala dukungan akan disertakan report dari karya Jannus P. Sihombing dengan tetap untuk diketahui merupakan partisipasi Komunitas Injili)

Jikalau Mungkin Ada yang Lebih Pasti !!!!!!!!1

Alkitab, Bobot Kemanusiaan & Interpretasi Tanggapan terhadap Bp. Ioanes Rakhmat dalam “Konflik Interpretasi Kitab Suci Kristen”

Oleh : Jannus P. Sihombing

 

Menyoal secara teks tentang pengakuan Alkitab sebagai Firman Allah tampaknya akan kembali menarik untuk dilihat, walaupun pada gilirannya ada sebuah ujung atau akhiran yang berusaha diabaikan dari para pengritik Alkitab-setidaknya itu asumsi empirik saya (fakta yang saya lihat dan apa yang telah saya alami)-mengenai bobot Alkitab dalam pengakuan keimanan orang Kristen sebagai otoritas mutlak.

Hal yang sama telah dikemukakan oleh Bp2. Ioanes Rakhmat dengan dasar anggapannya yang Universalistik dan tengah dilanda dengan demam ‘pelestarian global nilai-nilai kemanusiaan’ melalui tulisannya yang telah terdeduksi (umum ke khusus) dengan pra-paham universalisme “Konflik Intepretasi Kitab Suci Kristen Kompas, 1 Februari 2002”; yang mana dalam tulisan itu terkesan menukas dengan detil suatu kenihilan dan kepengecutan kaum inerrant Biblical (Ketaksalahan Alkitab dalam teks bahasa aslinya dan tetap dipakai sebagai firman Allah yang tak salah sekalipun diterjemahkan kedalam makna bahasa dan budaya lain) atas fakta dan pembuktian intepretasi literal Alkitab, yang unsur validitasnya diragukan dikarenakan membawa semangat fundamentalis (fanatik) ditengah arus universal jaman ini. Dalam sebutan Bp. Ioanes Rakhmat bahwa “Fundamentalisme Protestan yang membawa Fundamen-fundamen Injili” dalam penafsirannya yang literalistic terhadap Alkitab “Ketika diperhadapkan dengan model kritis, fundamen-fundamen Injili itupun berguguran” dengan lebih melihat kepada sesuatu yang sudah sangat tidak diperlukan lagi, yakni penekanan “dengan sangat kuat bahwa setiap orang Kristen harus kembali ke Alkitab” yang menurut Bp. Ioanes Rakhmat “ seruan ini pada dasarnya adalah seruan untuk ‘kembali kedoktrin pokok’ mereka tentang apa itu Alkitab” Dimana Bp. Ioanes Rakhmat tidak menjelasakan apa itu doktrin pokok tentang Alkitab yang diyakini oleh orang Kristen, dalam hal ini lebih khusus ‘kaum’ Innerant Biblical Uraian lebih lanjut membahas tentang perbandingan model literalistic dengan model kritis yang dalam pandangan Bp. Ioanes Rakhmat subyek (sipenafsir) dan obyek (literal) yang ditafsirkan tidak harus konstan dengan fundamen-fundamen literalnya sehingga membuat sipenafsir (subyek) tidak kritis terhadap realita yang ada dikarenakan stereotype yang dipakai dari esensi Alkitab yang tidak lebih dan tidak kurang, adalah sebenarnya sama dengan kitab-kitab lain3 Hal ini mengemuka untuk dianggap sebagai sebuah model penyejajaran semua agama. Jadi, apa istimewanya Alkitab itu ? (walaupun sebenarnya Bapak Ioanes Rakhmat nggak nulis kaya gitu, tapi saya sekedar membantu untuk dia tidak plintat-plintut) Dan mungkin nggak konflik intepretasi (penafsiran) Alkitab yang ada berakibat lebih dengan konsekuensi pilihan yang benar dan memang harusnya tentang mana esensi Alkitab itu sendiri ?

 

Penghakiman yang Tidak pada Tempatnya

Kritik intepretasi dalam tulisan Bapak Ioanes Rakhmat didahului dengan referensi sejarah tentang anggapan Alkitab yang langsung diwahyukan secara transenden, supra alami serta bersifat langsung, yang mana pandangan ini dipegang oleh kaum mantis. Anggapan mantis ini bisa diartikan tanpa melalui kurun waktu dan tentunya tanpa ada penulisan, jadi bisa diartikan langsung—selangsung-langsungnya; ya karena tidak jelas sehingga sayapun mengikuti untuk menafsirkan lain yakni bisa breeegggg turun dari langit. Mengenai hal ini saya sendiri berterimakasih, karena saya baru tahu sekarang, bahwa ada pandangan itu yang telah diangap menjadi salah satu kredo mengenai ihwal Alkitab yang katanya (Bp. Ioanes Rakhmat) pandangan ini ada dalam kekristenan. Sementara kaum Innerant-yang juga ada dalam kekristenan-mempercayai Alkitab sebagai tulisan yang ‘dinafaskan’ Allah melalui orang-orang pilihanNya yang secara historis memakai kurun waktu (Luk I 1-4; II Tim 8 : 16), jadi mantisme jelas sangat kontras dengan inerancy (ketaksalahan Alkitab), yang mana fundamen-fundamennya dapat diuji dan kritik terhadap mantisme adalah gegabah modus penghakimannya jika disamaratakan dengan kritik terhadap inerantisme perihal keberadaan Alkitab sendiri. Dalam bagian lain yang lebih mengemuka adalah menyangkut intepretasi tekstual yang dianggap menjadi penyebab superioritas sebuah keyakinan religi, yang mana cara pandang dengan mengedepankan fatwa atau keutamakan dan kesakralan menjadikan kita tidak dapat melihat “potongan-potongan kemanusiaan” dalam teks tersebut. Pemaksaan penafsiran teks kearah nilai-nilai yang ‘baik’ dari sebuah objek kemanusiaan sepertinya akan pasti kita temui, atau paling tidak kalau potongan itu tidak kita dapatkan kita harus memaksakan untuk terkesan ada (eisegese), lantas kalau sama sekali tidak ada ? Jadi, kalau begitu respon kritis yang harus dikemukakan kenapa harus didompleng dengan pra-paham universalisme dan sebegitu meyakinkannyakah bahwa kritik-kritik yang diposisikan sebagai batu penguji baik literal, aktual-proposional, ideal tentang nilai kemanusiaan dapat membuktikan bahwa Alkitab itu sudah kehilangan nilai dan bobotnya dalam realitanya sekarang ? Tentunya secara khusus bagi orang Kristen. Kritik nilai dengan pensakralan Alkitab juga harus diladenin dengan pengujian, karena Alkitab sendiri memposisikan untuk dipertanyakan dan mempertanyakan akan mana Allah yang menaungi segala realita yang ada, yang kalau bisa dan pernah membaca Alkitab akan menemukan gambaran Allah dan silahkan bandingan untuk melihat penghakiman yang tidak pada tempatnya ini.

 

Aktualisasi Sosio-modern

Benarkah semakin literalnya orang Kristen kepada Alkitab, akan membuat dia menjadi Triumfalistik dan momok sektarianis yang mengancam bagi perdamaian dan kebersamaan umat manusia, yang sepertinya harus konstan kita jaga sebagai sesama manusia yang tinggal di dunia ini ? Potongan Eisegese yang harus lebih diperbesar oleh teks tertulis yang dimaksud dari ide penulisan harus diaktualisasikan-karena memang pra-asumsi yang telah terlebih dahulu dipegang bahwa dalam taraf, bobot dan orientasi nilai ada ketidakberlakuan dari porsi Alkitab bagi jaman ini. Pandangan inilah yang dipegang oleh Universalisme, kita memang harus hati-hati dengan fundamentalisme yang terbiasa kita kenal, tapi fundamen-fundamen dari agama yang terkesan fundamentalis (fanatik) dan tidak punya toleransi untuk menerima pokok-pokok yang berlainan harus juga kita uji. Obyektifikasi untuk menjadi auto-kritik tidak dibuang bagi mereka yang berpandangan Alkitab Firman Allah dan sekali lagi bukan mantisme. Mencari jejak-jejak keuniversalan dalam Alkitab dengan menolak pandangan ortodoks Alkitab memang suatu toleransi yang juga adalah ‘penghantaman’ kepada esensi dari iman Kristen. Benarkah Inerantisme yang memiliki pandangan ortodoks Alkitab Firman Allah akan menimbulkan konflik? Sebagaimana sudah disimpulkan terlebih dahulu oleh para universalis. Sementara dengan lebih berani adakah yang lebih pasti selain manusia menemukan nature dalam kemanusiaannya dari Alkitab, untuk menyadari kebergantungan dan pemeliharaannya kepada Allah, juga omong-omong para universalis khususnya yang kristen atau tiap minggu kebaktian bahkan yang belajar Teologia dalam jenjang strata akademisi yang researchable4-pun sebenarnya Allah kaya apa dalam kepastian pemeliharaannya . Jikalau mungkin ada yang lebih pasti (mohon maaf ) selain Alkitab !!

Jannus P. Sihombing Seorang Inerantis


1 Dengan alasan lazim kesulitan tempat memuatnya harian Kompas menolak menampilkan yang porsinya adalah sebuah tanggapan. Dengan sebuah semangat untuk menanggapi penulis menyusun yang juga dimotivasi oleh pemimpin jemaat penulis saat itu, akan tetapi dalam perkembangannya jelas-jelas pemimpin jemaat penulis tidak menegaskan sebuah posisi akan inerantisme. Mungkin kritikan yang lebih tepatnya adalah kepada pemimpin jemaat penulis saat itu yang untuk itu penulis pun harus meninggalkan jemaat dan meyakini pandangan yang kabur mengenai doktrin Alkitab-proporsi wahyu. Tanpa merasa ditunggangi penulis masih melihat relevansi wacana ini yang juga otokritik kepada meraka yang mengaku percaya kepada inerantisme. Uraian lanjut lihat Jannus P. Sihombing “Pokok-Pokok Perbedaan Doktrinal Dalam Kelas Pengajaran” KIC press (paper tanggapan)-Juli 2003.

2 Sebuah kelaziman untuk tidak dapat dikatakan setara. Anggapan ini tentunya dapat dikatakan sebagai sebuah penghargaan untuk tidak menyalahi format melihat pokok bahasannya, sehingga esensi kekritisan tetap dimunculkan. Mohon maaf kalau tidak baku.

3 Pokok ini jelas merupakan sebuah konsekuensi dari sebuah dugaan fundementalisme yang sayangnya pukul rata. Karena anggapan sebagai sebuah momok. Uraian lanjut didapat dari James Barr “Fundamentalisme”, BPK-GM, 1997.

4 Anggapan ini dimunculkan mengingat tanggapan ini ditujukan kepada runga lingkup para teolog. Band. Martin L. Sinaga, Eka Darma Putera, Weinata Sairin dalam “Fundamentalisme Agama & Teknologi” BPK-GM, 2001. Dimana hal yang tidak bisa diabaikan dalam aktifitas sebagai pendeta yang tentunya melayani jemaat dan berkotbah tiap minggu.