John Calvin (1509 - 1564)

Kategori: Historika
Edisi : 111/V/2009
Penulis : W. Andrew Hoffecker
Tanggal :  27-5-2009

 

 

Apabila Luther adalah prajurit yang meluncurkan tembakan pembukaan Reformasi, maka Calvin adalah pakar utama yang mengonsolidasikan hasil-hasil kemajuan Protestan. Ia berusaha mereformasi bukan hanya doktrin dan organisasi gereja, seperti yang dilakukan oleh Luther, tetapi juga tatanan sosial-politik sesuai dengan firman Allah. Lahir di Noyon, Perancis, pada tahun 1509, 8 tahun sebelum Luther memakukan 95 tesisnya di pintu gereja di Wittenberg, Calvin adalah tokoh Reformasi generasi kedua. Ia belajar di beberapa sekolah untuk mendapat pendidikan humanisme.

 

 

 

 

 

Setelah ayahnya meninggal, ia meninggalkan studi hukumnya dan beralih ke teologi. Seperti Luther, ia mengalami pertobatan yang dramatis, namun ia tidak digerakkan oleh rasa bersalah dan rasa takut yang mencekam seperti rekan Jermannya itu. Ketika penganiayaan hebat pecah menimpa para tokoh Reformasi Protestan, Calvin berpindah-pindah untuk seketika lamanya di Perancis dengan beberapa nama samaran, dan kemudian menetap di Basel, Swiss, di mana ia mulai menulis bukunya, Institutes of the Christian Religion.

 

Di antara banyak kontribusi yang diberikan oleh Calvin bagi Reformasi, buku ini yang paling bertahan. Menjelang penerbitan edisi terakhirnya tahun 1559, buku ini telah bertumbuh dari eksposisi ringan doktrin Kristen (enam bab) menjadi karya teologi Reformasi yang paling signifikan. Mula-mula buku ini adalah suatu diskusi tentang Sepuluh Perintah Allah, Pengakuan Iman Rasuli, dan Doa Bapa Kami. Dalam bentuk finalnya yang terdiri dari delapan puluh bab, buku ini diorganisasi menjadi empat buku yang terdiri dari pokok bahasan tentang Allah, Kristus, Roh Kudus, dan gereja.

 

Pada tahun 1536, Calvin dengan enggan menyetujui untuk membantu William Farel, yang mengancam dia dengan hukuman ilahi apabila ia tidak mau bergabung dengan usaha Reformasi di Jenewa. Calvin dan Farel mencoba untuk menjadikan kota itu sebagai satu model komunitas Kristen dengan menegakkan hukum moralitas yang tinggi.

 

Tetapi orang-orang Jenewa yang liberal menghalangi usaha-usaha reformasi itu. Setelah diusir oleh kota itu, Calvin kemudian pergi ke Strassbourg di mana ia menggembalakan sebuah gereja dari para pengungsi Protestan Perancis selama 3 tahun. Itu adalah tahun-tahun kehidupannya yang paling bahagia. Ia mendapatkan seorang istri, menulis sebuah liturgi Protestan untuk menggantikan aturan ibadah Katolik, bekerja bersama para tokoh Reformasi Jerman untuk mempersatukan kembali gereja, dan mulai menulis tafsiran-tafsirannya, yang akhirnya meliputi 49 kitab Alkitab.

 

Kemudian Jenewa memanggilnya kembali. Melalui aklamasi publik, Calvin kembali pada tahun 1541 karena para penerusnya gagal dalam kepemimpinan mereka. Di bawah bimbingan Calvin, Jenewa menjadi sentra internasional gerakan Reformasi. Pandangan-pandangan teologis, sosial, dan politiknya dikagumi di banyak negara ketika para pengungsi Protestan dari seluruh Eropa berkumpul di Jenewa di mana mereka mendirikan gereja-gereja lokal mereka sendiri. Calvin menjadi satu-satunya tokoh Reformasi internasional melalui korespondensi yang luas dengan para pengungsi ini ketika mereka kembali ke negeri mereka masing-masing sebagai misionaris-misionaris bagi Protestanisme.

 

Teologi Calvin: Kedaulatan Allah

Ide-ide Calvin, seperti juga ide-ide Luther, pada dasarnya menghidupkan kembali Augustinianisme. Prinsip fundamental yang mengisi setiap bab Institutes-nya adalah pandangannya tentang Allah sebagai Raja yang berdaulat atas segala ciptaan. Kedaulatan Allah bukanlah suatu ide yang abstrak dan spekulatif, tetapi merupakan suatu prinsip yang dinamis, suatu realitas yang menginformasikan kehidupan yang konkret, yang membentuk diskusi Calvin tentang setiap doktrin. Calvin berkeinginan bahwa pengenalan orang-orang percaya akan Allah "lebih berisi pengalaman hidup daripada spekulasi yang melayang tinggi dan sia-sia" (Institutes 1. 10. 2).

 

Dari semua atribut Allah, yang paling penting untuk dialami secara pribadi adalah providensi-Nya karena atribut ini paling konkret menunjukkan kedaulatan-Nya. Providensi Allah tak dapat dipisahkan dari karya-Nya sebagai Pencipta. Tetapi jika Allah hanya sekadar Pencipta, Ia tidak akan berhubungan dengan ciptaan itu, sama seperti seorang pembuat jam yang tidak lagi terlibat dengan beroperasinya sebuah jam setelah ia membuatnya.

 

Martin Luther (1483 - 1546)

Sebab itu, Calvin memandang providensi pemeliharaan Allah meliputi seluruh tatanan ciptaan. "Ia menopang, memberi makan, dan memerhatikan segala sesuatu yang telah dijadikan-Nya, bahkan burung pipit yang tak berarti sekalipun" (Institutes 1. 16. 1).

 

Rencana rahasia Allah mengatur segala eksistensi, dari benda-benda yang tak berjiwa sampai kehidupan binatang dan juga manusia. Kehendak Allah yang tak terselidiki akan mengarahkan segala sesuatu. Implikasi-implikasi pandangan tentang Allah ini jelas sangat luas. Calvin bersikeras bahwa pandangannya tidak memimpin ke dalam fatalisme atau menolak tanggung jawab manusia. Berulang-ulang, ia menegaskan bahwa perhatian utamanya adalah menerangkan apa yang diajarkan oleh Alkitab tentang pokok yang sukar ini. Allah tidak berlaku seperti tuan tanah yang tidak ada di tempat. Ia secara akrab melibatkan diri dengan ciptaan. Calvin mengutip beberapa nas dari Perjanjian Lama maupun Baru untuk mendukung kendali Allah yang menyeluruh atas apa yang telah dijadikan-Nya. Sementara menegaskan providensi Allah, ia menolak gagasan tentang nasib, kebetulan, dan keberuntungan serta menganggapnya sebagai "temuan-temuan kafir".

Sebab itu, sejak awal Calvin membicarakan doktrin tentang Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara, bukan sebagai Penyebab pertama atau Penggerak yang tidak digerakkan, yang abstrak dan impersonal. Termasuk dalam gagasan tentang Allah sebagai Pencipta adalah bahwa Allah berpribadi dan bahwa Ia berkehendak dan mengatur apa yang telah dijadikan-Nya. Tidak seperti pandangan Aquinas, ide Calvin tentang Allah yang berpribadi tidak ditambahkan setelah ia terlebih dahulu membuktikan eksistensi-Nya (seperti yang dilakukan oleh Aquinas ketika mengadaptasi bukti-bukti rasional Aristoteles tentang suatu Penggerak yang tidak digerakkan atau Penyebab pertama). Calvin menolak dan menganggap tidak alkitabiah segala ide tentang Allah sebagai sekadar Penggerak pertama yang mengawali "suatu gerakan universal tertentu, menggerakkan seluruh mesin dunia dan masing-masing bagiannya" (Institutes 1. 16. 1). Allah itu berpribadi dan secara aktif berpartisipasi dalam ciptaan.

 

Dengan demikian, Calvin membicarakan providensi Allah tidak sekadar untuk isi intelektual dari providensi tersebut, tetapi untuk nilai religius praktis yang luar biasa besarnya bagi orang beriman. Kepercayaan pada providensi Allah memberi penghiburan besar kepada orang beriman bahwa segala kehidupan berada di bawah kendali Bapa surgawi yang penuh kasih. Pada saat yang sama, kepercayaan ini memberi suatu rasa takjub dan takut yang sepantasnya terhadap Allah, karena dalam rencana-Nya, Allah juga menyatakan kepada orang-orang Kristen tanggung jawab mereka untuk menemukan dan menggenapi kehendak-Nya. Berusaha mempertemukan kedaulatan Allah dengan tanggung jawab manusia, Calvin menegaskan penundukkan pada kehendak Allah dan mengakui serta menerima bagaimana Allah memakai keadaan-keadaan sekitar untuk mengajar kita taat pada firman-Nya.

 

Hati orang Kristen, karena ia telah diyakinkan bahwa segala sesuatu terjadi oleh rencana Allah, dan bahwa tidak ada suatu apa pun yang terjadi secara kebetulan, akan selalu melihat kepada-Nya sebagai Penyebab utama dari segala hal, tetapi juga akan memberi perhatian pada penyebab-penyebab kedua di tempat mereka yang sepantasnya .... Sejauh menyangkut manusia, apakah ia baik atau jahat, hati orang Kristen akan mengetahui bahwa segala rencana, kehendak, usaha, dan kemampuan manusia berada dalam tangan Allah; bahwa itu berada dalam pilihan-Nya untuk mengarahkannya sesuai dengan kehendak-Nya atau mengekangnya kapan pun Ia menghendakinya (Institutes 1. 17. 6).

 

Orang-orang Kristen tidak hanya mengerti dan mengalami providensi Allah melalui iman, tetapi juga menyerahkan kehendak mereka pada kedaulatan Allah untuk menaati perintah-perintah-Nya. Kaum Calvinis dilegakan dari kecemasan yang menulahi orang-orang tak percaya yang tidak menyadari maksud dan rencana Allah yang sedang dikerjakan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun menjalankan tanggung jawab mereka sendiri untuk mengatur kehidupan mereka sehari-hari menurut prinsip-prinsip alkitabiah, kaum Calvinis mengakui dan menerima dengan iman yang sederhana bahwa apa pun yang terjadi berada di bawah pemeliharaan providensia Allah.

 

Antropologi Calvin: Penciptaan, Kejatuhan, Penebusan

Karena Allah adalah Raja yang berdaulat yang memerintah atas ciptaan-Nya, maka segala sesuatu yang diciptakan-Nya, termasuk manusia, harus melayani dan memuliakan Dia. Moto Calvin menjelaskan tugas kita: "Hatiku kupersembahkan kepada-Mu, O Tuhan, siap dan tulus."

 

Karena manusia telah berdosa, mereka tidak hidup sesuai maksud asali mereka. Seperti Luther, Augustinus, dan Paulus, Calvin dengan tajam mempertentangkan kemuliaan dan ketulusan asali manusia sebagai gambar Allah dengan kerusakan dan kefasikannya setelah kejatuhan.

 

Alkitab melukiskan manusia yang telah jatuh sebagai manusia yang tidak memunyai kebaikan dan kekuatan. Tidak ada perbuatan manusia yang tak ternodai oleh kerusakan yang diakibatkan oleh kejatuhan itu. Meskipun gambar ilahi tidak sama sekali rusak, tetapi gambar ini telah mengalami distorsi yang luar biasa. Dihukum karena dosanya dengan diambil hikmat dan kebenarannya, Adam menunjukkan kebodohan, kesia-siaan, dan kefasikan. Adam yang telah jatuh ini menurunkan pembawaan-pembawaan ini kepada keturunannya dalam kesalahan dan kerusakan yang disebut sebagai "dosa asal". Dosa asal bukan hanya kerusakan yang diwariskan, tetapi juga, menurut Calvin, merupakan kesalahan yang diimputasikan, suatu putusan hukum yang dikenakan oleh Allah seperti dalam sidang pengadilan. Mengulangi pengajaran Paulus dalam Roma 5, Calvin mengajarkan bahwa Adam berdosa bukan sekadar bagi dirinya, tetapi sebagai seorang wakil federal bagi seluruh umat manusia, sama seperti Kristus, "Adam Kedua", yang mati sebagai wakil bagi dosa manusia.

 

Kerusakan yang kita warisi berarti bahwa setiap kehendak individual diperbudak oleh dosa, dan kita sama sekali tidak dapat melakukan yang baik. Manusia yang jatuh tidak memunyai kehendak bebas moral. Karena kehendak manusia dalam keadaan naturalnya, belum ditebus, adalah hamba dosa, hanya orang-orang yang telah dibebaskan oleh anugerah Allah-lah yang adalah agen-agen moral yang bebas. Tidak setuju dengan banyak filsuf, Calvin bersikeras bahwa kehendak dan rasio manusia begitu dilumpuhkan oleh dosa sehingga ia tidak dapat berfungsi seperti yang dimaksudkan sejak asalnya, manusia tidak dapat berbuat baik dan menyembah Allah. Calvin berpendapat bahwa, di antara semua Bapa Gereja, hanya Augustinus yang mengenali cakupan sepenuhnya dari kerusakan manusia. Dosa begitu merusakkan natur manusia sehingga manusia dalam keberadaan totalnya (akal, kehendak, afeksi, dsb.) dapat melakukan yang baik yang diwajibkan Allah baginya hanya melalui anugerah Allah saja.

 

Pandangan Calvin tentang keselamatan adalah bahwa dalam kasih dan ketaatan dan sebagai pengganti, Kristus telah membayar hukuman bagi dosa di Kalvari untuk menyelamatkan orang-orang yang telah dipilih Allah untuk diselamatkan. Dalam penebusan, anugerah Allah diimputasikan kepada (dianggap sebagai milik) orang-orang percaya, bukan diinfusikan (dicurahkan) ke dalam diri orang-orang percaya. Calvin menerangkan doktrin keselamatan dalam pembicaraannya tentang karya Roh Kudus, yang menerapkan karya Kristus kepada orang percaya. Roh menciptakan pertobatan dan iman dalam hati serta memperbarui gambar Allah dalam orang-orang yang telah dipilih untuk ditebus itu. Mengikuti Paulus dalam Efesus 2:8-9, Calvin menyatakan bahwa iman adalah sarana yang melaluinya orang-orang percaya dipersatukan dengan Allah, tetapi iman itu sendiri adalah suatu pemberian dari Allah. Perbuatan baik mengikuti iman, tetapi tidak dapat menjadi dasar bagi keselamatan. Dalam keselamatan, seperti dalam penciptaan dan penataan dunia, tema Calvin yang berulang adalah kebergantungan manusia pada kedaulatan Allah.

 

Calvin memakai istilah pemilihan untuk menerangkan bagaimana kedaulatan Allah beroperasi dalam keselamatan. Hanya setelah memahami kondisi keberdosaan manusia, kita dapat memahami keniscayaan adanya pilihan. Orang-orang yang tidak menegaskan pemilihan oleh Allah, menurut pendapat Calvin, cenderung kepada berbagai bentuk Pelagianisme, yang mengajarkan bahwa manusia dapat mengusahakan keselamatan mereka sendiri tanpa anugerah Allah atau memerlukan anugerah untuk membantu mereka dalam usaha menyelamatkan diri sendiri. Doktrin Calvin tentang pilihan atau predestinasi menentang pandangan Renaisans tentang "homo mensura" (manusia adalah ukurannya) dan gagasan abad pertengahan tentang anugerah kooperatif, yang keduanya mendukung otonomi manusia.

 

Dalam menerangkan tentang doktrin pilihan, Calvin menegaskan hanya ide-ide yang secara jelas diajarkan dalam Alkitab. Ia mencela setiap teologi yang melampaui pengajaran eksplisit Alkitab sebagai pemikiran spekulatif. Sebab itu, argumen pertamanya adalah bahwa Alkitab secara gamblang mengajarkan tentang pemilihan melalui istilah-istilah seperti memilih, mempredestinasi, dan lain-lain. Misalnya, dalam Perjanjian Lama, Allah memilih Israel untuk menerima penyataan khususnya dalam kovenan dengan Musa. Allah memilih Israel bukan karena ada jasa atau ada kualitas tertentu yang dimiliki oleh orang-orang Yahudi, tetapi hanya karena Ia berkehendak menunjukkan anugerah-Nya dengan menebus mereka sebagai satu umat (lih. Ul. 7:7-8). Bahkan di dalam Israel, tidak semua orang dipilih, tetapi hanya satu "sisa" (Kej. 45:7; Yes. 10:21). Calvin mengutip kedaulatan Allah dalam "memilih Yakub dan menolak Esau" sebagai contoh pemilihan (Rm. 9:13). Dengan demikian, pemilihan bersifat kolektif dan juga individual dalam Alkitab. Dari Abraham sampai para nabi, Allah memanggil satu bangsa untuk menjadi milik-Nya.

 

Calvin mencatat banyak nas dalam Perjanjian Baru yang mengilustrasikan kedaulatan Allah dalam pemilihan dan predestinasi. Misalnya, pernyataan Yesus: "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu" (Yoh. 15:16) (*1), dan perkataan Paulus, "Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan .... Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya" (Ef. 1:4-5) (*2), meneguhkan kedaulatan Allah dalam pilihan. Calvin menyimpulkan bahwa Alkitab dengan jelas mengajarkan predestinasi. Kedaulatan anugerah Allah dalam pemilihan adalah keniscayaan karena manusia mati dalam dosa, tanpa kebebasan kehendak yang sejati, manusia tidak dapat memilih Allah bagi dirinya sendiri. Tanpa predestinasi, Allah tidak berdaulat, umat manusia akan terhilang dalam dosa secara kekal. Dalam rencana penebusan-Nya, Allah memilih untuk menebus sebagian manusia untuk memuliakan nama-Nya yang kudus. Alasan mengapa Ia memilih metode keselamatan seperti itu berada dalam kehendak-Nya sendiri yang berdaulat.

 

Akhirnya, Calvin menjawab keberatan-keberatan yang diajukan terhadap doktrin pemilihan. Tanggapan-tanggapan mengambil beberapa bentuk:

(1) Sebelumnya ia telah menyatakan bahwa kehendak bebas adalah suatu ciptaan filsafat yang keliru. Jika manusia "mati dalam dosa" (Ef. 2:1), maka hanya anugerah Allah saja yang dapat menyelamatkannya. Pengajaran alkitabiah tentang dosa asal menjawab banyak keberatan terhadap doktrin pilihan, karena kerusakan manusia adalah suatu presuposisi penting tentang keniscayaan predestinasi Allah yang berdaulat.

 

(2) Sebagian keberatan adalah karena menganggap pemilihan itu tidak adil, membuat rasa tanggung jawab kita menjadi tidak ada artinya. Calvin menjawab bahwa dalam Alkitab, Allah sendiri adalah prinsip keadilan yang tertinggi. Seperti yang terlihat jelas dalam contoh Perjanjian Lama tentang Ayub, manusia tidak boleh memegahkan diri dan menuduh Allah tidak adil jika Ia memilih sebagian dan menolak sebagian lainnya. Mempertanyakan tindakan Allah menyiratkan bahwa kita dapat meminta pertanggungjawaban dari Allah, yang berarti menempatkan diri kita atau klaim-klaim kita di atas Dia. Itu adalah puncak arogansi manusia. Keadilan Allah jauh lebih tinggi melampaui segala konsepsi manusia tentang keadilan.

 

Bertentangan dengan pendapat umum, kata Calvin, kedaulatan Allah tidak meniadakan tanggung jawab manusia. Meskipun kedua hal ini tampaknya tidak dapat diperdamaikan, Alkitab meneguhkan kedua fakta ini, yaitu bahwa anugerah yang berdaulat adalah satu-satunya sarana yang melaluinya kita dapat diselamatkan dan bahwa kita masih harus mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatan kita. Meskipun penalaran manusia yang terbatas tidak dapat menyelesaikan dua fakta yang kelihatan bertentangan ini, kita harus meneguhkan keduanya sebagai kebenaran. Kedaulatan Allah dan akuntabilitas manusia, keduanya diajarkan dalam Alkitab, dan hubungan di antara keduanya sesungguhnya adalah suatu misteri besar. Kedaulatan Allah sendiri mengesahkan tanggung jawab manusia. Pandangan-pandangan yang mengajarkan kehendak bebas sebagai dasar satu-satunya bagi tanggung jawab moral memberikan otonomi kepada pilihan manusia, otonomi yang justru diajarkan oleh Alkitab sebagai milik Allah sendiri saja. Pandangan Calvin lebih seimbang daripada yang sering diakui oleh orang-orang yang meremehkannya. Orang-orang Kristen harus menegaskan kedaulatan Allah atas seluruh tatanan ciptaan, sehingga segala sesuatu ditentukan oleh kehendak Allah yang tak terselidiki, dan tanggung jawab moral dan spiritual kita. Dengan cara yang misterius, di luar pemahaman manusia, Allah menuntut tanggung jawab manusia atas segala tindakannya.

 

Suatu nas klasik Perjanjian Baru yang mengajarkan tentang predestinasi sekaligus tanggung jawab manusia adalah Kisah Para Rasul 2:23. Dalam khotbah Pentakostanya, Petrus menyatakan bahwa Allah telah mempredestinasikan kematian Yesus di atas salib sebagai bagian dari rencana keselamatan ilahi. Tetapi Petrus juga menyatakan bahwa orang-orang yang menyalibkan Yesus bertanggung jawab atas kematian Sang Anak Allah. Baik predestinasi Allah maupun tanggung jawab manusia tidak dikompromikan, karena keduanya dinyatakan dengan tegas. Tanpa sepenuhnya memahami bagaimana keduanya adalah benar, orang-orang Kristen diserukan untuk menekankan keduanya secara seimbang karena keduanya diajarkan dalam Alkitab.

 

(3) Dalam mempertahankan doktrin pilihan, Calvin juga merujuk kepada pengalaman eksistensial kita bahwa kita tidak mampu untuk melakukan apa yang diwajibkan oleh Allah dalam firman-Nya. Ia mengutip Pernyataan Paulus dalam Roma 7:15-20 bahwa meskipun kita mengetahui dan ingin melakukan yang baik, kita masih melakukan yang jahat. Kita mendapati dalam firman Allah bahwa anugerah adalah keniscayaan dan dijanjikan kepada kita dan diteguhkan dalam pengalaman kita sendiri. Di samping itu, doktrin pilihan ilahi tidak dimaksudkan untuk membuat orang-orang percaya cemas tentang apakah mereka dipilih atau tidak, tetapi justru mengantisipasi kecemasan seperti itu dengan memberikan keyakinan keselamatan dan penghiburan. Jauh dari sekadar suatu ide spekulatif tentang bagaimana Allah berhubungan dengan ciptaan-Nya, kedaulatan Allah dalam predestinasi, ketika dipahami secara benar, akan memberi nilai praktis yang besar dalam kehidupan sehari-hari. Pengajaran ini memberi kita keyakinan bahwa Allah menjalankan pemeliharan pribadi atas segala peristiwa. Kepercayaan bahwa Allah adalah Tuhan dan Juru Selamat kehidupan pribadi kita menangkal keputusasaan.

 

Pada akhir abad keenam belas dan permulaan abad ketujuh belas, Jacob Arminius, seorang teolog Belanda, mengajukan suatu alternatif bagi pandangan tentang predestinasi yang dipegang oleh Augustinus, Luther, dan Calvin. Arminius percaya bahwa prapengetahuan Allah mendahului predestinasi-Nya, sebab itu, pilihan Allah tidak absolut, tetapi bersyarat. Allah memilih orang-orang berdasarkan prapengetahuan-Nya tentang apakah mereka akan menerima atau menolak Kristus dan karya keselamatan-Nya. Arminius berusaha mencari dasar pijak antara kepercayaan Calvin pada predestinasi absolut Allah dan pengajaran Pelagius tentang otonomi manusia. Tidak seperti Pelagius, Arminius percaya bahwa dosa asal tidak hanya melumpuhkan kehendak manusia, tetapi juga menjadikannya sama sekali tidak mampu melakukan apa yang baik terlepas dari anugerah Allah. Tanpa anugerah Allah yang mempersiapkannya, manusia mati dalam dosa. Arminius juga percaya bahwa Kristus tidak membayar hukuman bagi dosa setiap orang, tetapi bahwa penderitaan Kristus tersedia hanya bagi orang-orang yang memilih untuk menerima Dia. Allah mengampuni dosa orang yang bertobat dan percaya. Keselamatan, dengan demikian, adalah suatu usaha kerja sama antara manusia dan Allah, sama seperti yang diajarkan Thomas Aquinas dalam sintesis Abad Pertengahannya.

 

Teologi Arminius dengan kuat memengaruhi pemikiran Protestan, khususnya evangelikalisme, di kedua sisi benua Atlantik. John Wesley memopulerkan ide-ide Arminian dalam Kebangunan Rohani Injili Inggris pada abad kedelapan belas dan menjadikannya inti teologi Metodis. Banyak denominasi Amerika, seperti Baptis, kaum independen, dan kelompok-kelompok kekudusan, berkomitmen pada pandangan-pandangan Arminian.

 

Ringkasan Reformasi

Teologi dan antropologi para tokoh Reformasi melukiskan bagaimana telitinya mereka merevisi doktrin dan kehidupan gereja Kristen (*3). Pandangan yang mereka rumuskan dengan sukses menantang mentalitas sintesis yang telah mendominasi gereja selama berabad-abad. Dan mereka tidak menciptakan suatu bentuk baru dari kekristenan, suatu perspektif yang sebelumnya tidak pernah dikenal dalam gereja. Tidak dimotivasi oleh suatu semangat untuk mencari yang baru, para tokoh Reformasi mengembangkan ide-ide alkitabiah yang di atasnya gereja secara asali didirikan. Mereka berusaha untuk melenyapkan segala sistem filsafat asing dari pemikiran Kristen dan kembali kepada pengajaran-pengajaran Paulus dan Augustinus untuk membentuk ulang setiap area doktrin dan praktik.

 

Karena asumsi-asumsi para tokoh Reformasi berbeda begitu tajam dengan asumsi-asumsi para pendahulu mereka, perubahan-perubahan radikal terjadi. Otoritas-otoritas lama yang mencampur Alkitab dengan filsafat, sejarah, dan tradisi ditolak dan digantikan dengan mereka yang secara sadar menerima Alkitab sendiri sebagai dasar bagi iman dan kehidupan. Luther menentang otoritas Paus dan juga Kaisar. Calvin membawa misi Reformasi lebih jauh untuk memikirkan kembali keseluruhan doktrin Kristen. Pekerjaan mereka memecah gereja Barat menjadi dua bagian, suatu perpecahan yang telah berlangsung sampai masa kita sekarang. Orang-orang Katolik memulai Kontra-Reformasi untuk menjawab tuduhan-tuduhan kaum Protestan dan juga untuk mereformasi berbagai penyalahgunaan yang menghalangi pelayanan mereka sendiri. Hal yang sentral bagi Kontra Reformasi adalah Konsili Trent (1545 - 1563), yang menegaskan kembali kebanyakan doktrin Abad Pertengahan, termasuk sintesis Thomas Aquinas tentang ide-ide Aristotelian dan alkitabiah.

 

Para tokoh Reformasi bukannya sudah sempurna. Sebagian pengikut Luther dan Calvin telah memodifikasi pandangan-pandangan mereka. Tetapi dua pilar Reformasi ini dengan kuat menegaskan kedaulatan Allah dan mendesak orang-orang untuk mengakui bahwa satu-satunya alternatif bagi kedaulatan Allah adalah kecenderungan, kuat atau lemah, pada otonomi manusia, yang menjadi kata favorit dalam era modern.

 

(*1) Bdk. Yoh. 6:39, 44-45; 13:18; 17:9
(*2) Bdk. Rm. 8:29; 9:10-13
(*3) Untuk sederhananya, kami membatasi studi kita tentang Protestanisme sebagai satu wawasan dunia pada ide-ide Luther dan Calvin saja. Dengan demikian, kami meniadakan berbagai kelompok yang disebut para tokoh Reformasi radikal dan kaum Anabaptis dan sekte-sekte Reformasi lainnya. Karena kami percaya ide-ide mereka memunyai signifikansi yang lebih besar bagi implikasi-implikasi sosial wawasan dunia, kami menyimpan diskusi tentang ide-ide mereka ini untuk pembahasan kita tentang masyarakat dalam jilid 2.

 

Untuk Bacaan Lebih Lanjut

Althaus, P. The Theology of Martin Luther. Philadelphia: Fortress, 1966.

Bainton, Roland H. Here I Stand: A Life of Martin Luther. New York: Abingdon Cokesbury, 1950.

Bangs, C. D. Arminius. A Study in the Dutch Reformation. Nashville: Abingdon, 1971.

______. The Reformation of the Sixteenth Century. Boston: Beacon, 1952.

Chadwick, Owen. The Reformation. Baltimore: Penguin, 1968.

Dickens, A. G. The Counter Reformation. New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1963.

Duffield, John, ed. John Calvin. Grand Rapids: Eerdmans, 1966.

Leith, John. An Introduction to the Reformed Tradition. Atlanta: John Knox Press, 1977.

McNeill, John T. The History and Character of Calvinism. New York: Oxford University Press, 1954.

McNeill, John T. dan Ford Lewis Battles, ed. John Calvin: Institutes of the Christian Religion. Philadelphia: Westminster Press, 1960.

Niesel, W. The Theology of Calvin. London, 1956.

Ozment, Steven. The Age of Reform: An Intellectual and Religious History of Late Medieval and Reformation Europe. New Haven: Yale University Press, 1980.

Parker, T. H. L. John Calvin: A Biography. Philadelphia: Westminster Press, 1975.

Pelikan, J. dan H. T. Lehmann, ed. Luther's Works. 55 vol. St. Louis: Concordia, 1955-76.

Schwiebert, E. G. Luther and His Times. St. Louis: Concordia, 1950.

Wendel, Francois. Calvin: The Origin and Development of His Religious Thought. New York: Oxford, 1954.

 

Sumber: 

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Membangun Wawasan Dunia Kristen, Volume 1: Allah, Manusia, dan Pengetahuan
Judul asli buku : Building Christian Worldview, Vol 1: God, Man, and Knowledge
Penulis : W. Andrew Hoffecker
Penerjemah : Peter Suwandi Wong
Penerbit : Penerbit Momentum, Surabaya 2006
Halaman : 138 -- 148